Senin, 06 Desember 2010

Kalimat yang salah pada sebuah wacana

Kisah Luna & Maya

By: Ziah

Luna adalah seorang gadis berusia 20 tahun, Luna tidak seperti anak gadis lainnya, Ibu Luna hanya seorang penjahit, sedangkan ayahnya sudah meninggal saat Luna masih kecil. Kehidupan yang di jalani oleh Luna sangat berat, Luna ingin seperti teman- temannya yang bisa kuliah di fakultas- fakultas idaman. Luna adalah anak yang pintar, nilai- nilai di sekolahnya sangat bagus, gak heran kalau Luna ingin sekali menjadi dokter. Tapi sayang, Ibu Luna tidak punya cukup biaya untuk membiayai anak kesayangan mereka itu. Untungnya Luna mendapat beasiswa dari kampus fakultas ekonomi untuk mahasiswa yang berprestasi tapi kurang mampu dalam hal perekonomian. Lain dengan Maya, Maya adalah gadis dengan kehidupan ekonomi yang lebih baik, Maya tidak pintar, juga tidak bodoh, Maya anak yang baik, kehidupan Maya sebenarnya jauh lebih beruntung dari pada Luna. Orang tua Maya adalah seorang direktur di perusahaan besar, bergerak di bidang ekspor- impor. Ibu Maya adalah seorang desainer terkenal, banyak artis- artis yang memesan baju ataupun gaun dengan biaya yang sangat mahal, Maya sekarang sedang kuliah di fakultas Ekonomi, sama dengan Luna.

Hari ini tanpa di sangka kedua gadis itu bertemu di perpustakaan kampus, mereka memang sering ke perpustakaan untuk mengambil bahan- bahan untuk keperluan skripsi mereka. Berhubung mereka lain jurusan, Maya mengambil jurusan Akuntansi, sedangkan Luna mengambil jurusan Manajemen, gak heran kalau mereka jarang bertemu kecuali di perpustakaan. Karena sering bertemu itulah akhirnya mereka bersahabat. Luna dan Maya sering belajar bersama, mereka sering berdebat untuk urusan- urusan mata kuliah, tapi itu semua tidak mempengaruhi mereka sebagai sahabat.

Hari ini kedua sahabat itu makan di kantin kampus, “Gimana skripsi kamu May?”Tanya Luna, “Ehmmm… biasa aja, emang kenapa Lun?” Tanya Maya. “Ahh… enggak, aku cuma ingin kita bisa lulus sama- sama.”Ujar Luna. “Tenang aja… kita pasti lulus sama- sama koq, kan kita udah janji, masuk ke kampus sama- sama, keluar dari kampus pun kita sama- sama, iya kan?”Ujar Maya”. Kalau udah lulus nanti, kamu mau ngelanjutin atau langsung kerja?”Tanya Maya. “Aku mau cari kerja aja, kuliah aja aku dapat beasiswa, bukan uang ku sendiri, lagi pula kalau aku ngelanjutin kuliah uangnya dari mana coba? kamu ada- ada aja” Ujar Luna. ”Loh… kalau kamu mengajukan lamaran untuk beasiswa, pasti kan kamu bisa ngelanjutin lagi…”ujar Maya.”kayaknya enggak deh May, aku mau bantu ibuku aja.”ujar Luna. Percakapan mereka pun terhenti sampai di situ.

“Luna, ibu gak sanggup kalau kamu melanjutkan S2 mu nak, lebih baik kamu cari kerja saja. Kita lebih membutuhkan banyak biaya, apalagi Ibu sakit- sakitan begini,”ujar Ibu nya Luna.”Iya bu.. setelah lulus nanti Luna akan cari pekerjaan, Insya Allah Bu.. Ibu tenang aja ya..”Ujar Luna, Ibu Luna hanya mengangguk.

Acara Wisuda berakhir, nilai Luna dan Maya sangat baik, mereka mendapat predikat Cumlaude, hanya saja IPK Luna lebih tinggi sedikit dari Maya, Luna mendapat IPK 4,00, sedangkan Maya mendapat IPK 3,9.Kini acara wisuda sudah selesai. Maya dan Luna sekarang sibuk mencari pekerjaan sesuai bidang mereka. Setahun sudah setelah acara wisuda kemarin, Luna dan Maya tidak pernah bertemu lagi, mereka sibuk dengan kegiatannya masing- masing, untuk sementara, Luna lebih fokus untuk menjaga Ibunya yang lagi sakit- sakitan, sementara Maya mencari pekerjaan kesana- kemari. Walaupun keluarga Maya termasuk keluarga yang lumayan berada, tapi Maya tetap ingin bisa mandiri, dan Maya ingin sekali dapat bekerja. Tapi satu tahun ternyata tidak membuahkan hasil, segala tes di lakoni Maya, tapi selalu gagal. Lain dengan Luna, setahun Luna Fokus untuk menjaga Ibunya, Luna hanya bekerja sampingan, Luna membantu Ibunya menjahit, Luna memang punya keahlian dalam menjahit, hasil jahitannya itu Luna jual ke pasar- pasar, lumayan untuk menutupi kebutuhan hidup mereka sehari- hari. Walau begitu, sebenarnya Luna ingin sekali bisa bekerja, tapi karena keadaan akhirnya Luna hanya bisa membantu Ibunya saja. Hari ini, saat Luna membawa ibunya ke puskesmas, Luna jumpa dengan seorang Bapak. Namanya Bapak Agus itu menawarkan Luna pekerjaan di perusahaanya, kebetulan pekerjaan yang ditawarkan sama Luna sesuai dengan bidang Luna yaitu Manajemen, Tugas Luna adalah sebagai pegawai di perusahaan yang bergerak di bidang ekspor- impor.

Saat Luna sedang asyik bekerja tiba- tiba Hp Luna Berbunyi, “Halo…”ujar Luna, “Luna, ini aku Maya, kamu apa kabar?” Tanya Maya. “Aku baik, kamu gimana?” tanya Luna “Aku juga baik”. “Kamu udah kerja?”Tanya Maya.”Sudah,aku kerja di salah satu perusahaan ekspor- import gitu, aku baru masuk seminggu yang lalu, kamu gimana?”Tanya Luna. ”Aku… ehm… belum nich, padahal banyak perusahaan yang ku datangi, ikut tes beberapa kali, tapi… ya… gitulah”Ujar Maya.”Jangan putus asa ya May, aku yakin Allah sudah menyiapkan sesuatu untuk kamu, kan kamu dulu bilang gitu sama aku dulu saat aku putus asa dalam mencari pekerjaan, kamu ingat gak?” Tanya Luna.”Iya sich…”ujar Maya.Sebenarnya ada rasa iri dalam diri Maya, “Aku yang selama ini Pontang- Panting mencari pekerjaan, ikut tes ini- itu, tapi gak pernah lolos, tapi Luna, dia hanya mengurus Ibunya saja sambil menjahit, dan sekarang Luna sudah bisa duduk enak di salah satu perusahaan, mana perusahaan ekspor- impor lagi” , Batin Maya.Segala cara sudah dilakukan Maya, tapi rasanya Maya jalan di batu- batu besar hanya untuk mendapatkan pekerjaan.

Maya menangis di kamarnya,menyesali nasibnya, Maya juga iri sama Luna, karena Luna bisa dengan mudah mendapat pekerjaan, tidak seperti dirinya.”Maya, kamu kenapa nak?”Tanya Ayah.Maya hanya menangis sesegukan, “Ayah… Luna udah dapat pekerjaan, sementara aku? Aku hanya ingin bekerja Ayah… tapi kenapa jalan yang aku tempuh sangat berat…”Ujar Maya sambil sesegukan.”Sabar Maya… Allah itu tidak tidur, mungkin ada hikmahnya.”ujar Ayah, “Maksud Ayah?”Tanya Maya, “Maya, kamu lihat hidup Luna kan? Luna itu anak orang susah, Ayahnya sudah meninggal, Ibunya sakit- sakitan, bahkan biaya kuliah saja dia tidak punya, Luna hanya berharap dari beasiswa saja, wajar saja kalau Allah kali ini memberikan dia kemudahan, kalau kamu Orang tua kamu lumayan berada, hidup kita mudah- mudahan sampai sekarang gak pernah kekurangan, Allah melebihkan rezekiNya melalui Ibu dan Ayah, hingga kita bisa hidup layak seperti ini, kalau Luna ibu nya sakit- sakitan, Ayahnya sudah meninggal, kalau bukan dia yang membantu ibunya yang sakit- sakitan, siapa lagi?. Mungkin Allah memberikan kemudahan untuk Luna dalam mencari pekerjaan, Allah gak tidur nak, kamu tenang saja ya, Insya Allah, Allah sudah menyiapkan pekerjaan yang terbaik untuk kamu nak. Tetap ikhtiar ya Nak..”Ujar Ayah. Maya memikirkan kata- kata Ayahnya itu, “Benar juga, selama ini, Allah sudah melapangkan rezekinya untuk keluarga kami melalui Ayah dan Bunda, sedangkan Luna selama ini hanya hidup kurang berkecukupan, di tambah Ibunya yang sakit- sakitan, Allah memang Maha Adil” Batin Maya.

Hari ini adalah hari baru untuk Maya, walaupun Maya belum mendapat pekerjaan, tapi, dia bisa menjual cerpen- cerpen karangannya ke penerbit- penerbit, uang hasil menjual cerpen- cerpennya itu, dia gunakan untuk membeli barang- barang yang ia butuhkan , bukan itu saja uang hasil penjualan cerpen- cerpennya itu, di belikannya sebuah tas kantor untuk ibunya, walaupun harga tas yang di beli Maya masih tergolong murah, tapi Maya bangga karena bisa membelikan sesuatu untuk orang tuanya, Paling tidak impian kedua gadis itu bisa terwujud dengan cara- Nya, Allah memang adil.

Sumber www.cerpen.net

Beberapa kesalahan yang terjadi pada beberapa kalimat dalam cerpen diatas :

NO

SALAH

BENAR

ALASAN

1.

Luna adalah anak yang pintar, nilai- nilai di sekolahnya sangat bagus, gak heran kalau Luna ingin sekali menjadi dokter

Luna adalah anak yang pintar, nilai- nilai di sekolahnya sangat bagus, tidak heran kalau Luna ingin sekali menjadi dokter

Karena kata yang digunakan tidak baku pada kalimat tersebut

2.

Berhubung mereka lain jurusan, Maya mengambil jurusan Akuntansi, sedangkan Luna mengambil jurusan Manajemen, gak heran kalau mereka jarang bertemu kecuali di perpustakaan

Berhubung mereka lain jurusan, Maya mengambil jurusan Akuntansi, sedangkan Luna mengambil jurusan Manajemen, tidak heran kalau mereka jarang bertemu kecuali di perpustakaan

Karena kata yang digunakan tidak baku pada kalimat tersebut

3.

“Gimana skripsi kamu May?”Tanya Luna, “Ehmmm… biasa aja, emang kenapa Lun?” Tanya Maya

“Gimana skripsi kamu May?”Tanya Luna, “Ehmmm… biasa aja, memang kenapa Lun?” Tanya Maya

Karena kata yang digunakan tidak baku pada kalimat tersebut

4.

Kalau udah lulus nanti, kamu mau ngelanjutin atau langsung kerja?”Tanya Maya

Kalau sudah lulus nanti, kamu ingin melanjutkan kulih S2 atau langsung kerja?”Tanya Maya

Karena kata yang digunakan tidak tepat pada kalimat tersebut

5.

“Luna, ibu gak sanggup kalau kamu melanjutkan S2 mu nak, lebih baik kamu cari kerja saja.

“Luna, ibu tidak sanggup kalau kamu melanjutkan S2 mu nak, lebih baik kamu cari kerja saja.

Karena kata yang digunakan tidak baku pada kalimat tersebut

6.

Tapi satu tahun ternyata tidak membuahkan hasil, segala tes di lakoni Maya, tapi selalu gagal

Tapi satu tahun ternyata tidak membuahkan hasil, segala tes dilakukan Maya, tapi selalu gagal

Karena kata yang digunakan tidak tepat pada kalimat tersebut

7.

Hari ini, saat Luna membawa ibunya ke puskesmas, Luna jumpa dengan seorang Bapak

Hari ini, saat Luna membawa ibunya ke puskesmas, Luna berjumpa dengan seorang Bapak

Karena kata yang digunakan tidak tepat pada kalimat tersebut

8.

Mungkin Allah memberikan kemudahan untuk Luna dalam mencari pekerjaan, Allah gak tidur nak, kamu tenang saja ya, Insya Allah, Allah sudah menyiapkan pekerjaan yang terbaik untuk kamu nak

Mungkin Allah memberikan kemudahan untuk Luna dalam mencari pekerjaan, Allah tidak tidur nak, kamu tenang saja ya, Insya Allah, Allah sudah menyiapkan pekerjaan yang terbaik untuk kamu nak

Karena kata yang digunakan tidak baku pada kalimat tersebut

Sabtu, 30 Oktober 2010

CERPEN

Misteri rumah tua

oleh winaniswah

Saat melewati rumah tua itu perasaan Tini selalu berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Tini melirik bangunan rumah tua itu sambil mempercepat langkahnya. Dinding dan kayu-kayu penyangga banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terurus. Banyak orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang menakutkan. Ada pula yang bercerita padanya, bahwa rumah itu dihuni oleh seorang kakek tua pertapa, dengan kumis tebal dan jenggot putih yang panjang. Namun, sejauh ini Tini belum pernah melihat satu pun penampakan dari rumah itu.

Sore itu, Tini baru saja pulang dari warung Bu Cokro Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Ia baru membeli satu kilo telur ayam, dan juga satu botol kecap. Berjarak satu meter dari rumah itu, Tini mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya pun meremang. “Duh.. Kok serem gini sih?” Keluhnya. Kresrek..Kreserrkk.. Bunyi derap kaki Tini yang menginjak tumpukan daun kering di sepanjang jalan, terdengar cukup berisik. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya. Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus bersahutan. Juga embikan kambing liar, atau lenguhan sapi yang di ternak oleh sang gembala di balik pohon-pohon jati. Ketakutan Tini semakin menjadi-jadi saat ia melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana. “Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapnya nyaris berbisik. Ia pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu. Esok harinya, Tini kembali melewati rumah tua itu saat perjalanan pulang dari sekolahnya. Tanpa sengaja, Ia mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ia mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. “Mungkin dari belakang rumah” Pikir Tini. Karena penasaran, dengan berjingkat ia berniat menguping pembicaraan orang tersebut. “Heh, gila lo! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang. Tini pun terus berdiri di depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telinganya kepermukaan pintu. Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat. Sebelum Tini sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. Tini begitu terkejut dan merasa degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. “Siapa itu?” Teriak seseorang dengan berang. Rupanya Tini selamat dari orang tak di kenal tadi. Ia nyaris tertangkap, jika seandainya ia tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok Tini dari belakang. “Gadis kecil berseragam sekolah SD. Mungkin ia kelas 4 atau 5”. Lapor sang pengejar Tini kepada seseorang yang lain. Mungkin itu adalah atasannya. “Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos, acuh tak acuh. Tidak seperti perkiraan mereka. Tini adalah gadis yang tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada Tini. Karena sebenarnya, Tini berumur 12 tahun atau kelas 6 tepatnya.

Di rumah teman Tini… “Eh Ra, kamu tau rumah kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk Tini ke arah Barat Daya. “Emang kenapa?” Rara balas bertanya. “Yang angker itu kan?” lanjutnya lagi. “Aku curiga deh!” “Sama siapa?” Rara menautkan alisnya karena penasaran. “Gini ra..” Tini pun menceritakan semua yang di dengarnya pada Rara, teman baiknya. “Hah? Yang bener?” Rara memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke kades nih Tin”. Tini langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Rara. “eeh.. ya jangan thoh. Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapnya dengan logat medok anak jawa. “Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Rara. “Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Rara beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang pernah mencita-citakannya. “Oke.”

Kruk..kruuk..krukk.. Suara jangkrik dan keheningan malam menyelimuti Rara dan Tini di hutan jati. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah. “Bos, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah tua. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam. Tini melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan suasana ini sangat mendukung bagi Tini dan Rara. Mereka sama sekali tak terlihat mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, ia jadi tidak bisa memperkirakan pukul berapa sekarang. “Eh Tin, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Rara seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu. Mereka tidak sadar apa yang ada di belakang mereka. Sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. “Aaah..Tolong aku Tin” Terdengar pekik tertahan dari samping Tini. Tini pun dengan cepet memutar arah pandangnya, dan ia melihat Rara terpeleset nyaris terbawa arus sungai. Dengan sigap, Tini menangkap tangan Rara dan ia pun berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke atas. “Greekk..” Riri dan Tini segera menjauh dari sungai. Dan kini mereka mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke bawah tanah. “Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”. “Mungkin” Jawab Tini sedikit ragu. Begitu mereka sampai di dasar lorong, mereka melihat hal-hal yang yang bersinar terang. Mereka belum yakin benda apa itu. “Oh my god!” Tini menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Rara pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua harta karun lainnya. Apa yang mereka lihat? “Tini, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!” Kemarin, Tini bercerita bahwa ia mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik pintu samping tempat Tini mencuri dengar kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia besar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… entah apa namanya. Setelah mereka merasa berhasil, mereka segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena menurut yang di dengar Tini, mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa.

Tepat di ujung terowongan, Rara di kejutkan oleh tiga orang berbadan tegap yang menghadang. “Ayo ra, kenapa berhenti? Di sini panas nih. Pengen cepet keluar” Desak Tini dari belakang Rara. Namun Rara tetap bergeming dan tak mengucap sepatah katapun. “Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Rara keluar, dan segera mencengkram tangan Tini dengan kuat. Tini, yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan meronta. Sekarang, mereka menjadi tahanan para gengster itu. Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan malu-malu. Riri dan Tini pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan terikat kebelakang. Mereka sangat kebingungan. Tini sempat menangis menyebut-nyebut nama mak dan bapaknya di rumah. Rara juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan. Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini, jam dinding rumah Tini telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapaknya mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat Tini sedari pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya. Dog..Dog..dogg!!! Suara pintu di gedor dengan keras. Bapak dan mak Tini segera berlari keluar denggan cemas. “Nak Bayu? Ada apa?” Tanya mak Tini kebingungan. “I..i-tu.. bu. Mbak Ti-ni sa..ma mbak Rara dalam bahaya” Ucap bayu, adik Rara terbata-bata.“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat ibu panik seperti ini!” “Lebih baik, ibu dan bapak ikut dengan saya” Mereka pun lari ke arah rumah tua yang terpercaya angker. Ternyata,di sana telah ada pak Kades dan orang tua Rara. Juga para penduduk desa. Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menggiring orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol. Tiba-tiba.. “Emaakk..” Tangis Tini pun pecah lagi. Ia segera berlari memeluk mak dan bapaknya. Pak Kades mengambil alih perhatian. "Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini rumah ini telah di huni para gangster, yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah itu. Esoknya.. “Bayu, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?” Tanya Tini saat ia bermain ke rumah Rara. “Maaf Tin, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. Maaf ya!” Ucap Rara dengan perasaan bersalah “Nggak papa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.Bayu pun akhirnya menceritakan semuanya. Dan Sekarang.. Desa tempat Rara dan Tini tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu.

Sumber www.cerpen.net

Beberapa kesalahan ejaan pada cerpen diatas :

NO

EJAAN SALAH

EJAAN BENAR

ALASAN

1.

Meremang

Merinding

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

2.

Gini

Begini

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

3.

Sekelebat

Sekilas

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

4.

Mending

Lebih baik

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

5.

Cepet-cepet

Cepat-cepat

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

6.

Menautkan

Mengerutkan

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

7.

Laporin

Laporkan

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

8.

Logat medok

Ucapan khas

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

9.

Gimana

Bagaimana

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

10.

Cepet

Cepat

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku

11.

Sedari

Dari

Karena ejaan yang digunakan kurang tepat dan tidak baku