Kamis, 17 Maret 2011

ARTIKEL

Potret Kehidupan Anak Jalanan

Inilah Jakarta. Ketika warganya yang para artis gemerlap ramai-ramai membuka warung tenda karena order berkurang, di balik gedung-gedung pencakar langit, kita tentu bisa menyaksikan terus bertambahnya jumlah anak jalanan yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan.

Mereka ini bukan siapa-siapa. Mereka adalah sebagian dari kita yang kesulitan mencari sesuap nasi dengan cara normal sudah tak terkendalikan. Itulah mereka, pemulung yang mengais-ngais buangan apa saja yang tak terpakai lagi dan dijual sekedar buat beli makanan, pengamen di lampu-lampu merah, pengecer yang menjaja koran dan majalah, bahkan sampai pengemis yang merangkap preman dan pencoleng.

Ya, inilah sepenggal cerita dari sudut remang-remang Jakarta, kota metropolitan di mana denyut kehidupan berlangsung terus menerus, sepanjang 24 jam sehari. Di ibukota ini, semua berhak hidup, termasuk anak-anak jalanan yang kini memenuhi jalan-jalan protokol di seluruh wilayah setiap harinya. Karenanya, meski hidup di sudut-sudut buram kota Jakarta, mereka adalah anak-anak bangsa, anak-anak kita juga.

Beginilah nasib anak jalanan yang tak punya rumah berteduh yang tetap. Mereka berteduh di bawah jembatan, stasiun kereta api, terminal, emper toko, pasar, dan bangunan kosong. "Sungguh terpaksa, aku menyanyi, mengharapkan tuan bermurah hati...." Seperti banyak pengamen lainnya, lagu karangan Rhoma Irama itulah andalan Ali (13), seorang anak jalanan di ibukota setiap harinya. Berbekal sebuah kecrekan dan dengan suara cempereng, jelek dan nyaris menyakitkan telinga, bocah bertubuh kurus itu sehari-hari menjajakan suaranya di jalan-jalan. Sekali sebulan, jebolan kelas empat SD ini menyempatkan menjenguk ibunya di Depok, Jawa Barat, sambil menyerahkan sebagian penghasilannya. Di situ sang ibu tinggal bersama bapak barunya Ali, yang sehari-hari nyambi sebagai tukang jaring ikan di sungai.

Dengan penghasilan Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per hari, ia mengatakan bisa membantu meringankan beban orang tuanya. "Lumayan, bisa bantu-bantu orang tua," tuturnya. Herman bocah asal Madiun, menceritakan kedatangannya ke Jakarta boleh dibilang nyasar. Setelah ditinggal mati ayahnya, ia bermaksud ke Yogyakarta. Tapi kereta api yang ia tumpangi membawanya ke Jakarta. "Saya sempat bingung," ujarnya. Yang jelas, setelah ia tiba di Jakarta, ia segera bergabung dengan rekan-rekannya yang senasib dengannya di Jatinegara. Tidak terasa, sudah empat tahun lewat hidupnya di Jakarta. Kerjaan Herman boleh dibilang serabutan. Dia menjadi pengamen, tukang parkir, dan pengojek payung. "Pokoknya apa sajalah," ujarnya.

Pengalaman serupa terjadi pada Ahmad. Bocah berusia 13 tahun ini masih mempunyai orang tua di Beji, Depok. Tapi ia memilih tinggal menggelandang di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, setelah putus sekolah di kelas tiga SD. "Kalau kangen pada ibu bapak, baru saya pulang," katanya. Kisah yang menyedihkan diceritakan Yono. Ketika berumur tujuh tahun, ia dibawa kakaknya dari Solo ke Jakarta. Sesampainya di terminal Pulogadung, ia dilepas begitu saja. Belakangan baru ketahuan motif sang kakak meninggalkan Yono di Jakarta, ternyata ingin menikmati warisan orang tuanya seorang diri.

Mega, pengamen cilik di daerah Pancoran. Gadis cilik berusia tujuh tahun itu dipaksa ibunya mengamen dengan alat musik seadanya yang terbuat dari kaleng. Ketika Mega beraksi, sang ibu hanya duduk di pinggir jalan. Begitu dapat recehan, Mega setor ke ibunya. Begitu seterusnya. Rupanya si ibu tidak bisa mentolerir bila Mega lengah ketika sedang bekerja. Mega juga ingin bermain seperti yang lainnya. Inilah yang membuat si ibu marah dan tega menampar wajah putri ciliknya itu.

Minah, pengamen cilik di perempatan jalan di Gunung Sahari, usianya belum lagi tujuh tahun, tapi pekerjaanya sudah begitu berat. Sambil mengamen dan menyanyi sekenanya, ia menggendong adiknya yang masih balita. Meskipun bisa menghasilkan uang sampai puluhan ribu rupiah per hari, Minah tidak punya alas kaki. Tak terlihat pakaian yang mendekati normal melekat di badannya. Wajahnya begitu kusut, sementara itu sang ibu tampak sedang menghitung dengan seksama receh demi receh uang yang diperoleh buah hatinya.

Anisa (1 tahun) yang manis sedang digendong Sofyan (7 tahun), kakaknya, di jalan masuk menuju Pasaraya, Blok M. Mereka duduk di trotoar di jalan parkir. Mereka memanfaatkan macetnya pintu masuk parkir, mengharapkan recehan dari orang-orang yang akan berbelanja di Pasaraya. Untuk mengundang rasa iba yang berlebihan, yang terlihat jadinya sebuah pemandangan yang jelas-jelas tidak manusiawi. Sofyan kadang memukul kepala adiknya yang masih balita itu agar menangis, supaya orang tambah iba. Sedangkan adik Sofyan lainnya, Mus (5) dan Jaka (4) juga berdiri di pintu Pasaraya, sambil meminta-minta pada orang yang lewat.

Kepala kedua anak itu gundul tetapi tidak rata, karena korengan. Sementara ibunya Sofyan, Ny. Suliyati Sidik (35) menggendong Usup (3) mengawasi Anisa, Sofyan, Mus dan Jaka. Ponijan, remaja yang mengais rezeki di sekitar Pasar Senen, anak jalanan asal Pemalang, Jawa Tengah, mengeluh, "Musim hujan begini, saya sering masuk angin. Lagian selalu diburu petugas gara-gara tidur di gerbong kereta api." Ponijan merantau ke Jakarta untuk membantu orang tuanya yang sakit di kampungnya.

Budi, bocah 13 tahun yang pernah sekolah hingga kelas satu SD berasal dari sebuah desa di Kutoarjo, Jawa Tengah. Lebih sebulan lalu ia nekat melarikan diri ke Jakarta menumpang kereta api. Ia menggelandang dan mengemis di kawasan Monas. Apa lacur, ia tidak cukup lincah menghindari operasi penggarukan anak jalanan oleh aparat. Ia terisak ketika dikirim ke panti sosial, tempat rehabilitasi gelandang dan pengemis. Di sana ia dikerangkeng di ruang besar berjeruji bersama sekitar 20 anak jalanan lelaki lainnya.

Kepala mereka digunduli, tubuh mereka rata-rata terlihat kurus karena sehari hanya diberi jatah makan dua kali senilai Rp 2.000. Budi menderita infeksi kulit oleh jamur (dermatomikosis) di sekujur perutnya dan tidak ada upaya pengelola panti untuk mengobatinya.

Pasangan Sutarma-Ranti, terpaksa melepas lima dari enam anaknya kepada orang lain akibat himpitan kemiskinan da menanggung beratnya kehidupan keluarga. Mereka diserahkan karena ia tidak bisa menghidupinya. Belum lama ini, dua anaknya, satu balita dan satu bayi, diserahkan kepada orang lain, dengan imbalan 10 kg beras, uang Rp 15.000 dan dua lembar kain. Sekarang, Sutarma (50) dan istrinya Ranti (40), hanya tinggal dengan anaknya, Rana (5), yang pertumbuhan fisiknya kurang normal.

Mereka di atas hanya sebagian kecil dari potret kaum miskin kota, yang kian terpuruk dengan krisis ekonomi ini. Mereka menjadi lebih tua dari umurnya karena harus memikirkan nafkah untuk orang tuanya. Haruskah anak-anak ini bekerja? Siapakah yang mesti disalahkan? Orang tua mereka? Ataukah kondisi ekonomi yang semakin memburuk ini?

Bagi anak jalanan, mereka saling memangsa tapi juga sekaligus memiiliki kesetikawanan yang mengharukan. Dan anak jalanan yang umumnya laki-laki secara naluriah membutuhkan figur wanita dewasa sebagai substitusi ibu. Mereka kelewat cepat matang, mengenal sex kelewat dini, dan akrab dengan zat adiktif, sex, omongan dan tindakan jorok adalah dunia keseharian anak jalanan.

Begitu pula dengan ngelem atau menghirup uap lem, bahkan meminum kopi dari biji buah kecubung yang bersifat halusinogenik. Sesunguhnya, ngelem adalah mekanisme mengatasi persoalan bagi anak jalanan, agar tetap terjaga, waspada terhadap kekerasan, agar bisa tidur, untuk melupakan sakitnya tubuh dan batin, dan untuk menikmati saat-saat euforia. Hal itu mereka lakukan bukan semata karena ingin mencari kenikmatan, tapi apa yang mereka hisap seringkali merupakan satu-satunya yang ditawarkan masyarakat untuk mengatasi pedih dan perih dalam kehidupan mereka.

Kendati demikian, anak jalanan sering dianggap sebagai bajingan kecil yang mengganggu kehidupan orang. Tidak semua anak jalanan itu menempuh jalur legal dalam pekerjannya. Sebagian dari mereka kini cenderung menjadi pemeras. Bahkan sebagian lagi, dengan mulut bau alkohol, misalnya, menghadang para pengendara mobil di malam hari. Ada juga yang memaksakan untuk mengelap kendarran dengan alat seadanya. Di balik lap yang dipakai, biasanya terselip batu atau alat runcing lainnya. Begitu ia merasa kesal, dengan seenaknya ia akan menorehkan senjatanya ke mobil anda. Sebagian merusak seperti mencopot kaca spion. Itu masih tergolong ringan. Ada juga yang melempar batu ke arah pengendara yang enggan mengeluarkan uang. Atau dengan pura-pura menjual air mineral, misalnya, mereka berusaha menjambret barang berharga para pengendara mobil.

Begitulah kesan umum tentang anak jalanan. Preman! Bajingan! Penjahat! Sampah masyarakat yang tak perlu dikasihani apalagi ditolong. Banyak dari anak jalanan berasal dari keluarga-keluarga bermasalah. Di dalam keluaraga mereka mengalami kekerasan, namun di jalanan mereka harus menyiasati hidup yang tak kalah kerasnya pula.

Mulai dari minimal kena damprat, atau kena kemplang karena pulang tidak membawa hasil, dipalak, digebuki, diperkosa, disileti, sampai dibunuh oleh preman. Ketika anak-anak jalanan itu di lapangan, muncul seorang jagoan yang meminta jatah tetap dari mereka. Di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, misalnya, sejumlah anak jalanan juga terpaksa harus setor Rp 2.000 setiap hari kepada "boss" mereka yang bernama Botak Dingdong. Orang yang berjulukan aneh itu terkenal sadistis. Ia tidak segan-segan menghajar siapa saja yang coba-coba tidak menyetor kepadanya.

Cerita sakitnya menjadi korban palak bisa didengar dari Deni, pengamen asal Cianjur yang bercita-cita menjadi artis penyanyi itu. Di kedua lengannya masing-masing terdapat bekas goresan silet. Tanda mata menyakitkan itu diperolehnya karena tidak memenuhi kewajiban setor kepada komplotan preman di daerah Pasar Minngu.

Waktu itu, empat anak muda memegangi tubuh Deni, sementara anak sepantarannya mulai menyiletinya. Sakitnya jangan ditanya lagi. "Saya menjerit-jerit kesakitan, tapi mereka tidak perduli," katanya, padahal dari setiap luka sayatan tersebut, darah mengucur terus membasahi pakaiannya.

Setelah puas, para preman tersebut meninggalkannya tergeletak kesakitan, sambil tak lupa menjitak kepalanya. Dengan pertolongan teman-temannya. Deni dibawa, sambil mencari obat. Lama-lama, luka tersebut sembuh dengan meninggalkan bekas luka sayatan. Beberapa anak jalanan mengaku pernah menjadi korban sodomi, atau diperkosa oleh orang-orang dewasa yang hidup di jalanan. Kadang ada yang disergap saat tidur di emperan toko atau di bawah kolong jembatan.

Sumber: Majalah Dhammacakka

Milis FEUI82
Dikirim oleh: Irwan B. Afiff
Selasa, 6 Nopember 2001

http://www.ilma95.net/anak_jalanan.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar